SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Special Interview Dreamers Radio with Endah N Rhesa

Kamis, 18 Juli 2013 17:19 by syaifan | 3531 hits
Special Interview Dreamers Radio with Endah N Rhesa
dreamersradio.com

DREAMERSRADIO.COM - Pada Jum'at (13/7) lalu, Dreamers Radio kedatangan pasangan musisi suami istri yang tergabung dalam Endah N Rhesa. Yap, mereka adalah Endah Widiastuti dan Rhesa Aditya. Keduanya hadir ke Dreamers Radio guna tampil di program FridayKustik.

Sekitar sepuluh menit setelah berbuka puasa, tim redaksi Dreamers Radio pun mewawancarai Endah N Rhesa yang baru saja merilis album ketiganya yang bertajuk 'Escape'. Dalam obrolan santai tersebut, keduanya bercerita tentang proses kreatif mereka di album tersebut.

Tak cuma itu, topik lain seperti Shane Harden, Star Trek, hingga Asuransi Jiwa jadi hal yang menarik dibincangkan sore itu. Seperti apa lengkapnya? Ini dia! (syf)

Dreamers Radio : Halo! Apa kabar Endah N Rhesa? Sedang sibuk apa saja belakangan ini?

Endah N Rhesa : Halo juga! Kami baik-baik saja. Belakangan ini kami memang sedang sibuk promosi album ketiga kami yang berjudul 'Escape'.

DR : Bagaimana dengan aktivitas kalian selama bulan puasa ini?

Endah : Alhamdulilah sejauh ini lancar-lancar saja. Yang jelas, frekuensi manggung kita berkurang, nggak seramai biasanya. Tapi kita juga tetap melakukan aktivitas. Kita jadi punya cukup banyak waktu luang untuk mengerjakan hal-hal yang tidak sempat kita kerjakan sebelumnya.

Rhesa : Iya, kita mengerjakan hal-hal yang nggak sempat kita kerjakan kalau lagi banyak manggung. Contohnya saya belakangan ini lagi mengarnsemen ulang lagu-lagu di album pertama dan kedua. Selain itu kita juga sedang merapihkan website kita. Lagi mau dirancang ulang, rencananya bulan ini sudah bisa diakses.

DR : Tadi kalian bilang sedang mengaransemen ulang lagu-lagu di album perdana dan kedua. Apa ada rencana mau dirilis ulang?

E : Iya, tapi bukan dalam bentuk fisik. Kita lebih ke arah pendengar yang menggunakan gadget dan mendengarkan musik digital. Kita sedang siapkan itu untuk bisa dirilis di iTunes. Sehingga kualitas musiknya juga lebih baik.

DR : Kalian baru saja merilis album ketiga yang berjudul 'Escape'. Bisa ceritakan tentang album 'Escape' itu sendiri?

E : Jadi 'Escape' itu sebenarnya punya dua arti. Buat kami, 'Escape' itu seperti sebuah pelarian kami dari zona nyaman yang biasa kami lakukan di album pertama dan kedua. Contohnya, kami ingin mencari tema yang belum pernah kami kerjakan di album sebelumnya. Seperti mislanya di 'Escape' ini, kami mengangkat tema-tema seperti teknologi, cinta, kehilangan, dan amarah juga ada. Jadi album ini terasa lebih emosional, dan inilah yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. 

Arti lainnya, di album ini kami memiliki tokoh imajinasi bernama Shane Harden. Tokoh ini adalah tokoh rekaan buatan Rhesa, yang selalu tampil di sampul album kami. Di album pertama, Shane Harden ini jadi tinggal di sebuah desa di pulau 'Silence Island'. Di pulau itu, Shane berpetualang dan menciptakan lagu dari cita-cita orang-orang yang ia temui di pulau itu. Dan kemudian, Shane meneliti bahwa di sebuah selat pulau tersebut, pernah ada suatu peradaban.

Dan pergilah Shane ke masa lalu. Di masa lalu, Shane mendapatkan bermacam temuan tentang pulau tersebut. Makanya di album kedua lagu kami lebih bernuansa pantai dan afrika. Salah satu kejadian yang ditemukan Shane adalah sebab kenapa pulau tersebut terpisah dari pulau yang ada di album pertama. Jadi di pulau tersebut terdapat sebuah topeng yang harus dijaga di sebuah desa. Jika topeng tersebut pergi, maka pulau tersebut akan terendam air.

Shane pun mencoba memperbaiki keadaan tersebut, dan dia berhasil. Tapi kemudian Shane segera kembali ke masa depan. Dan ternyata ia menyadari tidak semudah itu memperbaiki masa lalu. Karena ada masa diantara ketika Shane Harden kembali ke masa lalu dan masa dimana segala sesuatunya tidak dapat terkontrol. Dan itu semua jadinya berbeda.

Tapi kemudian, jadi ada perubahan peradaban di pulau Silence Island ini di masa depan. Dimana disitu malah terdapat banyak robot yang mendominasi pulau tersebut. Akhirnya, Shane membuat robot raksasa untuk lari dari pulau tersebut jika suatu hari nanti terjadi kehancuran.

Jadi arti 'Escape' untuk Shane Harden sendiri di trilogi album kami tersebut adalah untuk melarikan diri dari pulau Silence Island. 

DR : Oke, jadi 'Escape' untuk Endan N Rhesa sendiri adalah 'melarikan diri' dari tema-tema musik yang pernah kalian kerjakan di album-album sebelumnya.

R : Jadi bagi seorang penulis lagu seperti Endah misalnya, pernah membuat lagu yang jadi hit di album sebelumnya.  Biasanya, kita punya kecenderungan untuk bikin lagu serupa di album berikutnya. Dan itu yang ingin kami hindari, kami ingin lari dari zona nyaman dimana kami selalu membuat lagu yang hit. Kami nggak ingin terus-terusan membuat lagu hit, itu maksud kami di album 'Escape' ini.

E : Jadi kami lebih mencoba menemukan cara-cara dan formula baru dalam menulis lagu di album ini, tapi tetap disukai orang tanpa terjebak dengan formula atau strukutur lagu yang pernah kami buat. Lebih ke eksperimen sih memang.

DR : Kenapa kalian ingin membuat album dengan konsep trilogi dan ada kisah fiksinya seperti ini?

R : Kalau untuk konsep trilogi seperti ini, dari album pertama memang kami sudah rancang sedemikian rupa. Dari awal kami berkesenian, kami ingin menawarkan sesuatu yang tidak hanya musik. Lebih ke multimedia, ada animasi dan sebagainya. Jadi orang kalau beli album Endah N Rhesa tuh dapat musik juga, animasi juga, dan ada cerita fiksinya. 

DR : Lalu kalian dapat inspirasi dari mana saja untuk mengerjakan album trilogi ini? 

R : Karena ini fiksi, kami jadi punya sumber inspirasi yang jauh lebih luas. Kan biasanya ada penulis yang dapat inspirasi itu kalau dia pernah mengalami atau merasakannya langsung. Kalau kita jadi lebih banyak mengkhayal. Dari musik, tontonan dan bacaan yang kita simak mungkin juga jadi inspirasi kita.

DR : Film, musik atau buku apa saja yang kalian simak?

R : Banyak ya, kalau di album pertama temanya kan American gitu, kita jadi lebih banyak baca buku-buku yang berbau American. Terus di album kedua suasananya lebih seperti di Afrika, kita banyak nonton film-film yang bertema Afrika seperti Lion King, dan animasi-animasi lainnya. Di album ketiga karena temanya condong ke arah teknologi dan futuristik, kita jadi nonton dan baca buku-buku seperti Star Trek, dan macam-macam. Jadi dari situ kita dapat bayangannya kira-kira seperti apa sih luar angkasa itu, seperti apa sih di Afrika. Seperti itu.

DR : Sejauh ini kalian hanya merilis karya seni kalian sebatas dalam format musik dan gambar animasi di sampul album. Kenapa tidak merilis buku, komik atau film animasi, misalnya?

E : Sebenarnya ada sih. Sebenarnya cerita ini tuh nggak cukup dirilis dalam tiga album saja. Bahkan Rhesa sudah punya gambaran tentang tokoh ini dengan tokoh lainnya. Kami memang senang untuk membuat hal-hal semacam itu. Mungkin suatu saat kami akan merilis novel atau buku cerita yang ringan-ringan saja.

DR : Sejauh ini bagaimana tanggapan penggemar terhadap album 'Escape'. Apa ada kritikan yang masuk ke kalian?

R : Nah, ini juga cukup jadi kontroversi belakangan ini. Antara mana yang 'suka' Endah N Rhesa dan mana yang 'tahu' Endah N Rhesa. Buat penggemar yang mungkin hanya tahu satu lagu atau satu album yang ada lagu 'When You Love Someone'-nya, mungkin album ini terlalu berat dan mereka nggak suka. Tapi kalau untuk penggemar yang sudah mengikuti kami dari album pertama, kedua, sampai yang ketiga ini, mereka sangat suka dan support kita terus.

E : Sebenarnya gini, susah buat kami untuk membuat musik yang semua orang akan suka. Waktu diskusi dengan Rhesa, kami tahu album ini akan berat. Saat kami merekam album ini, kami ya bermain musik sesuai dengan keinginan kami, dengan eksplorasi kami. Dari album pertama sih kami sudah seperti itu. Ketika 'Escape' dirilis dan muncul berbagai macam reaksi yang masuk ke kami, buat kami itu sah-sah saja. Ya inilah proses kami bermusik.

Dan kami juga tidak mau tertekan dengan hal-hal seperti, kami harus membuat lagu-lagu hit yang serupa dengan 'When You Love Someone' di album 'Escape'. Karena itu menurut kami akan membosankan.

Dari awal tujuan kami bermusik itu ya cuma satu, bahagia. Jadi kami melakukannya untuk bahagia, just for fun. Kami nggak mau dengan bermusik kami malah jadi dapat sesuatu yang nggak membuat kami bahagia. Termasuk melakukan wawancara seperti ini, kami melakukannya agar kami bahagia. Bukan malah jadi membosankan.

Karena ketika kami bermusik, kami ingin menawarkan konsep yang baru dan tidak membosankan. Jadi ketika kami ditanya konsep apa yang ada di album kami, kami akan menjawab dengan semangat, karena buat kami itu menyenangkan. Lain jika kami membuat album dengan konsep yang sama dengan album-album sebelumnya, saat ditanya mungkin kita juga tahu jawabannya itu-itu saja. Dan kami nggak ingin seperti itu.

DR : Kalian bilang tidak mau membuat lagu yang mengikuti selera pasar. Tapi 'When You Love Someone' akhirnya meledak di pasaran dan jadi hit. Apa kalian pernah memikirkan bahwa lagu tersebut akan menjadi seperti itu?

E : Sempat kepikiran sih, karena sebenarnya lagu tersebut adalah lagu yang kami produksi tahun 2005. Saat lagu tersebut dirilis tahun 2009, ternyata orang-orang memang banyak suka. Padahal itu lagu tahun 2005 dan memang baru kami rilis tahun 2009. Tapi ya nggak masalah. Kalau orang dengarkan album 'Escape', ya itulah sound Endah N Rhesa di tahun 2013.

Bagi kami penulis lagu, sebenarnya kami sudah tahu mana lagu yang akan disukai dan mana yang tidak akan disukai orang. Tapi ya, kita rekam saja. Pas kita lempar ke pasaran, kita 'kan nggak tahu mana yang akan benar-benar disukai orang. Dan itu sebenarnya yang jadi kesenangan sendiri buat kami. 

DR : Untuk di album ‘Escape’ ini kira-kira ada berapa lagu yang menurut kalian akan menjadi hit?

R : Mungkin nggak sampai setengahnya kali ya. Karena kita bikin memang nggak ada tendensi untuk jadi hit atau bakal disukai. Mungkin Cuma lagu ‘Just Tonight’ kali ya. Karena kita bikinnya waktu itu juga pas mood nya lagi ceria, dan habis nonton film yang seru juga. Berarti Cuma satu sepertinya. Hahaha.

DR : Kalian sudah bermusik bersama sejak masih pacaran hingga akhirnya saat ini kalian menikah. Perbedaan apa yang kalian rasakan di proses kreatif bermusik kalian setelah dan sebelum menikah?

R : Banyak sih, cuma memang lebih ke komunikasi saja ya. Mungkin dulu waktu kita masih pacaran, karena terbatas jarak dan waktu, perbincangan kita soal musik atau hal lain bersangkutan dengan ide kreatif kita jadi agak terbatas. Misalnya saya baru mendengar satu album baru, dan Endah belum, itu cukup memakan waktu buat kita mendiskusikan album tersebut.

Baca juga: Panggung Romantis HIngga 'Adegan Suami Istri' Endah N Rhesa di Street Gallery!

E : Dan dengan kita sudah menikah seperti saat ini, komunikasi jadi lebih gampang, karena kita bareng terus, tinggal serumah. Mau ngomongin apa-apa mulai dari musik, film, bareng terus dan ini mempercepat proses kreatif kita. Dan lagi, kita juga jadi saling memberikan kritik yang membangun karena kita suami istri dan satu grup. Bukannya untuk menjatuhkan tapi untuk kebaikan kita bareng-bareng juga. Sesuatu yang nggak bisa didapatkan kalau Cuma sekedar teman band saja.

DR : Jadi lebih asyik mana ngeband sebelum menikah atau sesudah menikah?

E dan R : Setelah menikah lah. Hahaha..

DR : Kalau pandangan Endah N Rhesa terhadap kondisi musik Indonesia saat ini?

E : Yang mana ya? Mungkin musik independen saja ya, karena kita bergelutnya disitu. Kalau menurutku skena musik independen Indonesia hari ini semakin maju, semakin kreatif, semakin out of the box. Mereka juga semakin mudah dalam mempublikasikan karya-karya mereka lewat internet dan komunitas lainnya. Rekaman pun sekarang sudah mulai murah, ada digital recording dan lainnya. Komunitas mereka di daerah pun semakin berkembang, mereka punya pasar sendiri dan akan terus tetap hidup.

R : Mungkin juga lebih ke sisi ekspos media terhadap skena musik independen Indonesia yang masih kurang. Karena kalau kita lihat sekarang, ekspos musik yang diberitakan oleh media ‘mainstream’ itu ya itu-itu saja, seragam. Sehingga orang yang tidak tahu menganggap musik Indonesia itu nggak punya keberagaman.

E : Kalau banyak media mau memberikan eksposur yang sama dengan musisi ‘mainstream’, maka orang jadi akan tahu kalau ternyata ada keberagaman di dunia musik Indonesia, sehingga dapat menginpirasi orang lain untuk membuat musik yang lebih beragam lagi.

DR : Tadi kalian bilang bahwa tujuan kalian bermusik adalah untuk bahagia. Lalu target kebahagiaan kalian dalam bermusik itu seperti apa sih?

E : Target kebahagiaan dalam bermusik.. (diam sejenak). Sejujurnya, pertanyaan ini juga sudah pernah ditanyakan oleh salah satu wartawan Rolling Stone, dan sampai saat ini kita juga masih bingung dan belum bisa menjawabnya. Apa ya, mungkin sejauh ini belum ada ya. Karena mungkin ini hubungannya sangat erat sekali kaitannya dengan kehidupan pribadi kita diluar musik. Dan ini akan sangat rentan terjadi jika salah satu dari kami sedang tidak bahagia dalam menjalankan musik itu sendiri.

DR : Pernah merasakan itu?

E : Pernah, dan cukup sering. Misalnya ketika kita ingin tampil di sebuah acara atau panggung, ketika salah satu dari kita tidak merasa bahagia dengan panggung kita hari itu dan bahkan tidak bisa mengatasinya di atas panggung sekalipun, kami lebih baik mundur dan menolak tawaran bermain tersebut. Makanya kita selalu selektif dalam setiap memilih tawaran manggung, kalau diantara kami ada yang tidak suka mulai dari teknis sampai hal lainnya, kami memilih untuk tidak bermain.

Kami hanya akan manggung selama kami berdua bisa bahagia. Karena ini berhubungan dengan kehidupan pribadi kami. Kalau untuk target, ya kami akan coba terus bermusik selama kami bisa dengan cara yang kami lakukan seperti ini. Karena menurut saya, bermusik adalah pekerjaan yang paling mengasyikkan.

R : Iya, kami akan coba terus bermusik dengan cara kami sendiri. Karena kami yakin jika kami bahagia, kami dapat menghasilkan musik yang juga menyenangkan. Sekaligus ini juga tantangan  bagi kami untuk bisa bermusik sampai tua nanti.

DR : Kalian ingin bermusik seperti ini sampai tua nanti?

R : Iya, karena itu target kami juga. Kami tidak ingin ditengah jalan nanti kami buka usaha atau alih profesi misalnya. Karena sekarang banyak orang juga meragukan musisi bisa bertahan secara finansial sampai tua, dan itu sebenarnya yang ingin kita wujudkan juga.

E : Kadang juga terbersit pikiran ketika seorang anak memutuskan untuk menjadi musisi, ada orang tua yang meragukan dan mengharapkan mereka agar menjadi PNS atau pejabat negara lainnya. Sejujurnya kita juga memimpikan itu, musisi bisa di fasilitasi oleh negara, dibiayai, atau minimal mendapatkan asuransi kesehatan. Hanya saja memang sistem industrinya yang terjadi saat ini seperti itu. Tapi kita akan coba buktikan bahwa kita ingin dan bisa melakukannya sampai tua nanti.

DR : Jadi menurut kalian pemerintah belum sampai ke tahap itu?

E dan R : Belum.

DR : Lalu apa yang kalian lakukan untuk mencapai dan mewujudkan hal yang kalian impikan itu?

E : Kita mulai dari diri kita sendiri dulu sih, karena memang hal yang paling sering menjadi masalah adalah uang. Kita coba gunakan jasa perencana keuangan independen. Kita coba atur keuangan kita sendiri sebaik mungkin sampai ke tahap bagaimana caranya agar kita punya tunjangan hari tua. Dan lain sebagainya.

R : Dan kita juga coba sosialisasikan cara yang kita gunakan ini kepada teman-teman musisi yang kita kenal. Karena tahu sendiri, musisi itu punya gaya hidup yang gila. Sehingga kami rasa sudah saatnya musisi memikirkan hal semacam ini. Dan mereka pun menyambut positif juga cara yang kita terapkan ini.

E : Dan kita juga kemarin punya tiga asuransi yang berbeda untuk menutupi misalnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi lebih ke persiapan untuk masa depan.

DR : Kalau setiap manggung apa kalian punya ritual khusus? Soal wardrobe atau outfit mungkin?

E : Ya, wardrobe mungkin ya. Kita coba cari yang semodel, sewarna. Dan kita cocokkan juga dengan tema acaranya. Kalau kacamata mungkin kita pilih yang frame-nya sama juga. Karena kita suka seperti ini.

Kalau ritual khusus sih nggak ada ya, paling kita Cuma berdo’a seperti biasa. Dan, oh ya kita kalau manggung nggak pernah bawa playlist dari rumah atau sudah dipersiapkan sebelumnya. Justru kita baru diskusikan playlist itu pas di belakang panggung, kita cocokkan dengan penontonnya, dengan suasananya. Seperti itu saja sih.

DR : Ke pertanyaan trivia, konser apa yang pertama kali kalian tonton?

R : The Police, tahun 2007 di Singapura. Eh, bukan deh. Incognito di Jakarta tahun 2005 kalau nggak salah.

E : Aku pertama kali nonton konsernya Cockpit, band yang suka membawakan lagu-lagunya Genesis. Itu waktu zaman SMP tahun 1997 di Jakarta.

R : Eh, bukan Incognito! Gue pertama kali nonton konser itu konsernya Funky Kopral tahun 2000, pas masih SMA.

DR : Kalau album musik yang pertama kali didengarkan apa?

E : Apa ya, kebanyakan dari abang sih. Oh ini, aku pertama kali dengar White Lion album yang Pride. Itu zaman SD.

R : Kalau gue pertama dengar albumnya Hanson, cuma lupa album yang mana. Sama waktu SD juga.

DR : Kalau musisi yang paling kalian senangi?

R : Victor Wooten.

E : John Frusciante, apalagi waktu dia masih gabung sama Red Hot Chilli Peper. Itu keren banget!

DR : Kalau musik yang kalian saat ini sedang dengarkan, atau yang ada di playlist?

E dan R : Kita nggak terlalu punya banyak influence sih. Cuma yang memang kita dengarkan dari dulu sampai sekarang itu ya Bela Fleck and the Flecktones.

DR : Terakhir, akan seperti apa album keempat kalian nanti, apakah masih memiliki benang merah dengan tiga album sebelumnya?

E dan R : Karena itu trilogi ya, jadi mungkin kita nanti bikinnya lebih seperti ke arah sidestory nya. Jadi kalau Lord of The Ring kan ada The Hobbit, nah mungkin nanti di album keempat kita akan seperti itu.

 

 

Komentar
  • HOT !
    Aktris cantik Shin Se Kyung kerap mendapat kritikan akan aktingnya dalam sebuah proyek drama. Meski telah menunjukkan kemampuan terbaiknya, tetap ada saja yang berkomentar buruk terhadap caranya berakting....
  • HOT !
    Reality show tentang kehidupan pernikahan salah satu diva Korea, Lee Hyori yang berjudul ‘Hyori’s Bed & Breakfast’ memang berhasil menarik perhatian banyak penonton. Hal inilah yang akhirnya menjadi alasan pihak produksi membuat dari acara tersebut yang akan tayang pada Januari tahun depan....
  • HOT !
    Pertemanan Gigi Hadid dan Taylor Swift memang sudah terjalin sejak lama. Namun belakangan keduanya memang jarang bertemu karena kesibukan masing masing. Gigi disibukkan dengan kegiatan di dunia fashion, sementara Swift sibuk dengan album barunya....

BERITA PILIHAN

FAN FICTION
OF THE WEEK
Writer : Kristiana
Cast : Park Chanyeol (EXO), Sandara Park (2NE1), Xiumin (EXO), Minzy (2NE1), Sehun (EXO), Lee Hi

BERITA POPULER

 
 
 
^
close(x)